Aku Mati
Pada sebuah ceruk tak berongga, sebujur putih menggelebah Merapal entah-berentah yang tiada kuasa menolong, terkokol ditatap sang hitam bernetra biru Dikiranya cemeti dewa tengah berselaras mencipta gelumat pekak di tawang sana Rupanya hanya sekawanan kunang-kunang berdian menggantikan gurat jingga yang telah melesap Namun si kecil dan jagatnya itu teramat bisu, lengang Tuan-tuan jangan beringas, apa sebab tak kusuguhi barang selinting kepala api jadi begini? Damailah, nanti orang-orang dengar dan aku bera; aku ini seorang ningrat Sakit... lecutan senawat Tuan melebamkan kesucianku, tapi persetan katamu Lihat! Beraian tanah jadi luruh menimpaku, ia lancang menembus deretan pintuku tanpa ketuk Hai kunang, kau tak dengar juga aku kesakitan? Benar-benar alam paling nyenyat, padahal cuma sepetak Gelegar suara dua utusan Tuhan ini terlampau menghunus indra runguku Tapi hiruk di atas lubangku masa bodoh, sungguh masa bodoh Lalu dibiarkannya aku terbaring seor...